Inilah 2 orang pemenang kompetisi “Guru Menulis” Gelombang 1 yang mendapatkan hadiah masing-masing Rp. 500.000,-. Ayo para guru ikut serta dalam kompetisi ini…bagikan pengalaman anda, dan raih hadiahnya!

1. Rahasia Membuat Siswa Ketagihan Ulangan

Oleh: Nurachman,S.Ag, S.Pd (Guru SMP Terpadu Baiturrahman – Ciparay)

Ada yang tidak biasa di telinga kita saat mendengar ada siswa yang ketagihan dengan Ulangan. Kalau takut, tegang, atau pura-pura sakit saat akan ulangan itu sudah biasa, karena bukan hanya terjadi pada siswa yang memiliki kemampuan akademik menengah, namun juga bisa terjadi pada siswa yang pintar sekalipun jika mereka tidak memiliki kesiapan baik pemahaman maupun mental.

Berdasarkan pengalaman saya mengajar di SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay sejak tahun 2001/2002. siswa selalu memberikan respon positif apabila guru sebagai fasilitator pembelajaran menerapkan metode yang tepat dan menarik saat proses pembelajaran, baik di dalam kelas maupun saat di luar kelas. Sehingga implikasinya dari setiap indikator pada Kompetensi dasar yang dipelajari dapat tercapai.

Namun respon positif saat siswa mengikuti proses pembelajaran di kelas, tidak secara otomatis berdampak positif pula pada saat ulangan sebagai tolok ukur pemahaman materi yang sudah dipelajari. Siswa seringkali mengeluh dengan berbagai alasan agar ulangan tidak dilaksanakan. Berdasarkan pengamatan saya sebagai guru, faktor yang paling menonjol penolakan siswa untuk mengikuti ulangan adalah ketidaksiapan mental siswa sehingga berdampak pada daya konsentrasi menghafal yang kurang, selain itu tidak ada media yang membuat mereka menjadi senang saat ulangan dilaksanakan. Padahal apabila dilihat dari hasil pembelajaran di kelas, mereka dinilai sudah memahami sesuai dengan target yang diharapkan.

Melihat fenomena seperti halnya di atas, berarti kurang responnya siswa saat akan dilaksanakan ulangan adalah karena model soal yang di buat guru tidak sekreatif dan semenarik metode yang diterapkan guru saat proses pembelajaran. Guru pada umumnya lebih terbiasa membuat soal yang konvensional atau yang lajim di buat.

Kondisi tersebut berimplikasi pada hasil yang diraih siswa pada mata pelajaran IPS. Maka dalam hal ini guru sebagai fasilitator pembelajaran perlu memberikan respon positif secara konkrit dan objektif yang berupaya membangkitkan partisipasi positif dari siswa baik dalam pembelajaran mauapun saat proses evaluasi/ulangan.

Sesuai dengan kenyataan di lapangan pada siswa SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay saat itu, saya mengambil langkah untuk melihat apa yang sebenarnya mereka suka dalam pembelajaran IPS yang saya ajarkan. Ternyata mereka suka mengikuti pembelajaran karena menarik dan menyenangkan sehingga pembelajaran berjalan efektif.

Akhirnya setelah mengamati hal-hal yang mereka suka, saya menemukan ide untuk membuat ulangan menjadi menarik dan menyenangkan serta keluar dari jalur konvensional. Saya mengamati betapa besarnya minat anak-anak SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay saat itu membaca komik. Maka menjadi langkah yang tepat untuk mengatasi kejenuhan saat membaca soal demi soal yang diberikan guru melalui bentuk soal cerita bergambar yang dikemas dalam bentuk komik.

Adapun langkah yang dibuat dalam membuat soal ulangan dalam bentuk komik adalah kita harus melihat terlebih dahulu materi yang akan di ulangankan, kemudian membuat indikator-indikator soal, langkah berikutnya membuat sketsa gambar sesuai dengan materi yang akan di ulangankan. Setelah idenya dianggap sesuai, maka langkah berikutnya menyusun soal sesuai dengan cerita yang akan kita buat. Misalnya saat materi yang di ulangankan tentang PETA, maka judul komik dalam ulangan adalah “mencari harta karun”. Dan kita tidak menuliskan kata “ulangan” pada cover gambar untuk menghindari image yang kurang nyaman pada siswa.

Soal ulangan harus di buat dalam bentuk buku, agar terkesan betul-betul sedang membaca komik, dan setelah harinya tiba, maka langkah yang harus di perhatikan adalah menginformasikan tentang soal ulangan yang akan digunakan, buat spirit anak-anak menjadi lebih bergairah untuk mengerjakannya, dan setelah semuanya siap maka ulangan bisa dimulai.

Diluar dugaan, ternyata dari hasil pembuatan soal dalam bentuk komik memberikan warna baru pada siswa SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay. Senyum mereka yang biasanya hilang saat ulangan kini kembali terlihat ceria seperti saat mereka mengikuti pembelajaran IPS. Adapun hasil yang di dapat siswa rata-ratanya mampu melampaui KKM yang di tetapkan

Pembuatan soal dalam bentuk komik ini terus saya terapkan kepada anak-anak didik saya, hingga akhirnya pembuatan soal dalam bentuk komik ini mampu membuahkan prestasi yaitu sebagai juara inovasi pembelajaran pada tahun 2006 dan Guru Berprestasi pada tahun 2009.

Akhirnya image ulangan yang menjenuhkan dan menegangkan hilang dari fikiran siswa SMP Terpadu Baiturrahman Ciparay. Dan sebaliknya justru mereka ketagihan dengan ulangan-ulangan berikutnya. “pa kapan ulangan lagi…” kini pertanyaan itu sering muncul dari para siswa yang saya bina.

Semoga pengalaman ini menjadi inspirasi bagi seluruh civitas akademika dimanapun anda berada…..amiin.

2. Menjadi Guru di Kampung Jawara

Oleh: Joko W.

Ini sebuah cerita di tahun 1985 ketika saya yang masih sangat muda baru berusia 22 tahun menjadi guru honorer di SMA swasta di daerah Rawa Belong wilayah diantara slipi dan kampung sukabumi di Jakarta barat. Kampung rawa belong adalah kampung kelahiran Si Pitung Jagoan Betawi yang sangat populer dan melegenda . Di sana juga bermukim para tuan tanah, centeng, dan para jawara. Jawara istilah yang dikenal masyarakat betawi sebagai orang yang jago silat dan selalu menjadi pemenang (juara) dalam perkelahian.

Di awal saya mengajar saya ditempatkan di SMA kelas 2 IPS5, kelas itu ” dikuasai” oleh seorang siswa pimpinan geng yang sangat berpengaruh di rawa belong. Ketika saya masuk ruang kelas hanya beberapa orang yang menjawab salam saya. Setengah kelas bergerombol bernyanyi dan main gitar. saya segera menyadari bahwa saya sdg diuji oleh mereka. Saya teringat pesan ayah saya, “bila menghadapi remaja, kita harus punya strategi, kita harus berusaha untuk “masuk melalui jalan mereka, dan keluar melalui jalan kita”. Kata ayah saya.

Saya coba terapkan nasehat ayah saya itu. Saya langsung ambil prakarsa untuk berbaur bersama mereka, saya ajak anak yang di depan utk ke belakang dan bernyanyi bersama, kelas jadi riuh, satu lagu, selesai saya berteriak “lagi, satu lagu lagi”, suasana sudah mulai saya kuasai, sampai lagu ketiga”. Setelah itu saya tawarkan kepada mereka untuk membuat acara rekreasi dan bernyanyi sepuasnya, sambil memuji pemain gitar dan kelas yang meriah itu. Perlu waktu 30 menit untuk menguasai kelas, kemudian perkenalan, satu persatu saya coba mengenal mereka, saya puji mereka baik melalui pujian arti nama mereka yang bagus, penampilan yang baik, senyuman, sikap, ketrampilan main gitar, menyanyi, pemimpin geng itu bernama Munir, saya puji sebagai orang yg pendiam penuh kharisma, bahkan yang suka teriak saya puji sebagai calon supporter yang andal.

Suasana kelas cair, pertemuan pertama saya anggap sukses. Pertemuan kedua, saya disambut hangat, cuma Munir saja yang kelihatan “Jaim”, sementara saya diamkan yg penting tidak mengganggu. Munir dikenal pemimpin geng yang ditakuti di pasar rawa belong, diwaktu malam dia bekerja sebagai “keamanan” atau preman, wajahnya dingin, sorot matanya tajam. Dia pernah mengejar guru pakai golok ketika tidak naik kelas. Anak buahnya sesama anggota geng banyak yang ada kelas lain di sekolah itu. Pihak sekolah kewalahan, bahkan pihak yayasan, memanggil guru silat dari Cimande utk melatih silat para guru, dgn alasan membentengi guru” dari kemungkinan diserang murid dan orang tua. Itu beralasan, karena pemandangan aneh terjadi ketika pembagian rapor, orang tua dengan pakaian pesilat dg golok dipinggang berseliweran di pintu gerbang sekolah.

Saya sendiri sebagai guru muda yang masih idealis tidak sependapat dengan cara” beladiri spt itu. Saya punya prinsip dengan kebaikan mereka anak didik bisa kita rebut hatinya.

Begitu juga dengan Munir pimpinan geng di sekolah itu, saya harus menaklukkan hatinya. Begitulah ketika pertemuan kedua berakhir, saya panggil Munir dengan bahasa yang sopan, saya katakan bahwa saya minta bantuan dia sehubungan dengan ada orang yang mengancam saya, saya buat skenario seolah saya sdg diancam orang dan butuh bantuannya. Responnya Munir sangat luar biasa, dia bilang, saya akan bantu bapak, “siapa yang berani mengancam bapak akan saya sikat”, katanya pancingan saya berhasil.

Tanpa saya duga, besoknya Munir bertindak, dia masuk ke semua ruang kelas dan menyampaikan kepada warga kelas bahwa katanya “Loe boleh macem macem sama guru laen, tapi tidak sama Pak Joko, kalau loe loe pade berani ngancem pak Joko, loe berhadapan dengan gue” kata Munir. Saya mendapat laporan dari guru” senior yang terheran heran menanyakan bagaimana bisa menaklukkan Munir. Hubungan saya dengan Munir menjadi spt Kakak Adik karena usia kami hanya terpaut 3 tahun, saya membantu kesulitan belajar dia sampai dia bisa naik kelas dg kerja kerasnya. Munir pernah cerita bahwa dia menjadi preman karena protes kpd bapaknya, bapak saya tanahnya banyak Pak, kerjanya jual tanah trus kawin cerai kawin cerai. Saya benci, saya memutuskan hidup sendiri dengan dapat uang di pasar,

Saya berbicara spt itu di warung bakso, saya rencanakan akan traktir dia dg gaji pertama saya. Namun, saya kalah cepat, dia dulu yang bayarin saya. Tukang bakso gak mau terima uang dari Munir karena takut ada apa”nya ttg keamanannya, tapi saya kasih kode utk menerimanya..siapa yang berani sama preman, pikirnya..

Begitulah, buat saya tidak ada kamusnya melakukan kekerasan kepada siswa, dengan perhatian dan kebaikan hati kita bisa menaklukan anak didik kita betapapun parahnya ..butuh kesabaran dan strategi….

Masuk dari pintu mereka, keluar dari pintu kita” adalah salah satu strategi saya menaklukan Munir, siapa mau coba…?